Ushul Fiqih

بـــسْــــمِ اللِّّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

RESUME USHUL FIQIH

I. SEJARAH USHUL FIQIH

Sesungguhnya dasar syari’at Islam yang smpai kepada kita dengan perantaraan Nabi Muhammad SAW, adalah Al-Qur’an, kemudian beliau menjelaskan Al-Qur’an dengan Sunnahnya, baik dengan ucapan maupun perbuatan yang masing-masing saling menguatkan. Maka Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi dasar hokum syari’at Islam dan menjadi rujukan bagi para mujtahid dalam melakukan istinbath (penetapan hukum).

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arabdan dijelaskan oleh As-Sunnah dalam bahasa Arab, dan para sahabat memiliki keistimewaanberupa kejernihan berpikir dan ketajaman pikiran, sehingga mereka belum membutuhkan apapun selain yang mereka dalam menentukan hukum-hukum dari sumbernya. Mereka belum membutuhkan pengetahuan kaidah-kaidah perubahan kata, perubahan bentuk kata dan ilmu-ilmu baru yang menyerupainya. Apabila tejadi sesuatu peristiwa dan ingin mengetahui hukumnya, maka merekapun merujuk pada Al-Qur’an, apabila tidak mendapat penjelasan, mereka mencarinya dalam sunnah yang shahih dan jika tetap tidak mendapat penjelasan mereka akan berijtihad dengan menyamakan hal-hal yang serupa (dengan yg terdapat dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah) dengan tetap memperhatikan kemaslahatan yang menurut mereka syari’atpun memperhatikan kemaslahatan ini.

Demikian pula ketika Muadz bin Jabal ditugaskan ke Yaman, ketika ditanya Rasul tentang dengan apa ia mmemutuskan perkara, ia menjawab bahwa ia memutuskannya dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, lalu dengan ijtihad. Rasul membenarkan tertib urutannya.

Disebutkan pula pesan Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al-Asy’ari ketika beliau mengangkatnya menjadi hakim, bahwa proses putusan perkara adalah sesuatu yang diharuskan dan ditetapkan atau merupakan sunnah (tradisi) yang harus di ikuti. Kemudian beliau berkata;”Pahamilah apa yang terlintas dalam hatimu di antara hal-hal yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah SAW, kemudian kenalilah hal-hal yang serupa dan qiyaskanlah (analogikan) yang satu dan yang lain saat itu juga serta pilihlah yang paling dekat dengan Allah dan paling mendekati kebenaran”.

Masa seperti itu telah berakhir dan muncul kemudian bangsa-bangsa yang bercampur dengan bangsa Arab. Setelah bahasa itu seperti tabiat yang melekat, maka jadilah ia suatu disiplin ilmu yang mereka pelajari, merekapun merumuskan kaidah-kaidahnya dan menyusunnya dalam buku-buku sehingga mereka tidak merasa khawatir bahasanya akan hilang atau dipengaruhi dan strukturnya di rubah oleh bangsa asing.

  1. PERUMUSAN USHUL FIQIH

Yang pertama memperhatikan hal itu adalah imam Muhammad ibn Idris Asy-syafi’I al-Muthalibi yang wafat di Mesir tahun 204 H. Imam Syafi’i mendiktekan risalahnya yang dijadikan sebagai pengantar dalam kajian fiqh dalam kitabnya Al-Umm.

Para ulama berpendapat bahwa tujuan ilmu Ushul Fiqh adalah sampai kepada hukum dari dalilnya. Dan kajiannya mencakup hukum, dalil, istinbath dan mustanbith (orang yang berijtihad untuk merumuskan hukum), kemudian mereka mengatur pembahasannya dalam empat bab ;

  1. Al-Ahkam : wajib, haram, sunnah, makruh, mubah, baik, buruk, adaa’(penuaian suatu ibadah pada waktu yang telah ditentukan), qadha’ (penuaian suatu ibadah setelah habis masa waktunya), shahih, batal, dan lain-lain.

  1. Dalil-dalil meliputi : al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

  1. Metode istinbath ; yaitu aspek-aspek petunjuk (mencari) dalil-dalil.

  1. Al-Mustanbith : yaitu mujtahid.

Para imam mutaqaddimin banyak yang menyusun ushul menggunakan metode mutakallimin, ada tiga karangan besar yang diketahui, yaitu ;

  1. Kitab Al-Mu’tamad karya Abu Al- Hasan Muhammad ibn ‘Ali Al-Bashri Al-Mu’tazili As-syafi’I (w.463 H).

  1. Kitab Al-Burhan karya Abu Al-Ma’ali Abdul Malik ibn Abdullah Al-Juwaini Al-Naisaburi As-Syafi’I yang dikenal dengan imam Al-Haramain (w.487 H).

  1. Kitab Al-Mustashfa oleh Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazali As-Syafi’I (w.505).

  1. PENGERTIAN USHUL FIQIH

Ushul Fiqih adalah kaidah-kaidah yang digunakan sebagai alat untuk merunuskan hukum-hukum syara’ dari dalil-dalinya.

Kaidah adalah rumusan umum yang mencakup dalam juz’iyah (bagian-bagiannya) ketika menyelidiki hukum-hukumnya.

  1. OBYEK USHUL FIQIH

Obyek Ushul Fiqih adalah dalil sama’i, dimana ilmu ini dengan berbagai kondisinya sampai pada kemampuan untuk menetapkan berbagai hukum yang mengatur perbuatan mukallaf. Obyek ini antara lain mengandung beberapa unsur : dalil, karakter (sifat) dan berbagai jenisnya.

  1. DASAR PENGAMBILAN USHUL FIQIH (ISTIMDAD)

Termasuk kaidah-kaidah disiplin ini adalah hal-hal yang dapat mengantarkan kepada bentuk istinbath dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Artinya, kemampuan memahami motivasi keduanya, sebagaimana dikatakan: kata ‘Aam (umum) merupakan hujjah qath’iyah. Pengertiannya bahwa kata ‘aam mengandung keumuman hukum bagi semua satuan-satuannya secara pasti, kecuali bila ada dalil yang mengkhususkan.

Setiap masalah dalam ushul fiqih menjadi dasar fiqih. Hanya saja, perbedaan di dalamnya tidak sampai menimbulkan perbedaan dalam furu’ fiqih; seperti meletakkan dalil atas keabsahan sebagian madzhab atau pembatalannya, misalnya perselisihan dengan Mu’tazilah dalam persoalan wajib dan haram dalam kondisi yang diperkenankan memilih. Sebenarnya masing-masing pihak memiliki sikap yang sama, akan tetapi berbeda pendapat dalam i’tiqad. Dan banyak lagi masalah semacam ini yang bersesuaian dengan masalah lainnya yang melalaikan banyak orang dari hal-hal yang dikerjakan.

  1. TUJUAN USHUL FIQIH

Tujuan Ushul Fiqih adalah sampai kepada istinbath (penetapan hukum) dari dalil-dalilnya.

II. HUKUM

Definisi hukum menurut ahli ushul fiqih adalah khithab Allah yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf dalam bentuk tuntutan, pilihan atau penetapan.

Sedang menurut ahli fiqih adalah suatu karakter yang merupakan implikasi dari khithab tersebut, seperti kewajiban shalat, petunjuk untukmencatat hutang, keharaman zina, kemkrhan jual beli di waktu adzan dikumandangkan.

Definisi diatas menjadi jelas, bahwa hukum terbagi menjadi dua, yaitu ; hukum taklifi dan hukum wadl’i.

  1. AL-HAKIM ( YANG MENETAPKAN HUKUM)

Al-Hakim adalah Allah SWT dan yang memperkenalkan hukum-hukum Allah serta yang menyampaikannya kepada manusia adalah para Rasul-Nya.

Hal-hal yang berkaitan dengan hukum terbagi atas tiga hal, yaitu ;

  1. Hak Allah yang murni, yaitu yang berkaitan dengan manfaat umum bagi alam tanpa mengkhususkan salah satu hubungan kepada Allah SWT, karena kepentingan yang besar dan manfaat yang menyeluruh. Ada delapan macam, yaitu;

  1. Ibadah Mahdlah (ibadah murni), seperti iman, shalat, puasa, zakat, haji, umrah, dan jihad.
  2. Ibadah yang mengandung artu pembiayaan, seperti sedekah fitri.
  3. Biaya dalam ibadah itu mengandung arti pendekatan kepada Allah.
  4. Pembiayaan yang bermakna hukuman, yaitu kharaj (pajak)
  5. Hak yang berdiri sendiri, yaitu hak yang tidak berkaitan dengan tanggung jawab sebab tujuan tertentu yang kemudian harus dilaksanakan.
  6. Sanksi-sanksi hukuman yang sempurna, yaitu hudud, seperti ; had zina, dan potong tangan bagi pencuri, had mabuk.
  7. Sanksi hukuman yang kurang, yaitu terhalangnya pembunuh menerima warisan dari harta si terbunuh.
  8. Hak-hak yang mengandung arti ibadah dan hukuman seperti kaffarah.

  1. Hak-hak manusia yang murni seperti penggantian barang rusak, pemilikan akibat transaksi jual beli dan hak-hak yang menyerupai bentuk-bentuk tersebut.

  1. Hal-hal yang mengandung dua hak dan hak Allah lebih dominant, seperti hadd bagi tuduhan zina yang tak terbukti, karena membawa kebaikan dunia dengan mencegah kerusakan darinya.Dan sesuatu yang mengandung dua hak dan hak manusia lebih dominant, seperti qishash.Dikarenakan syara’ membolehkan wali korban memberi maaf terhadap pembunuh.

  1. HUKUM TAKLIFI

Hukum taklifi adalah khitab Allah yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf adakalanya berupa tuntutan atau suruhan memilih. Hukum taklifi ada lima macam : Ijab, Nadab, Takhrim, Karahah dan Takhyir, serta pengaruhnya pada perbuatan menjadi wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

  1. Ijab/Wajib

Yaitu tuntutan atas suatu perbuatan secara pasti dan tegas. Contoh,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ

Artinya : dan sembahlah Allah ( An-Nisa: 36)

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ

Artinya: “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang banyak (Arafah)” (Al-Baqarah : 199).

  1. Tahrim

Yaitu tuntutan meninggalkan perbuatan secara pasti. Contoh,

Artinya : “Janganlah berkata ‘uff’ kepada kedua orang tua dan jangan pula menghardiknya dan ucapkanlah kepada mereka kata yang baik (Al-Israa:23)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu dan janganlah kamu membunuh dirimu”. (An-Nisa 29).

  1. Nadab

Yaitu tuntutan melakukan suatu perbuatan secara tidak pasti, dan ketidakpastian itu di ambil dari indikator (qarinah) yang mengurangi tuntutan, sehingga beralih dari pengertian wajib. Contoh,

إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Artinya :”Bila kamu melaksanakan hutang piutang hingga suatu waktu tertentu, maka hendaklah kamu menulisnya”(Al-Baqarah : 282).

Ayat diatas di alihkan dari pengertian wajib oleh ayat,

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

Artinya ;”Akan tetapi bila sebagian dari kamu merasa aman dari sebagian yang lain, hendaklah yang diberi amanat menunaikan amanatnya dan hendaklah ia takut kepada Allah Tuhannya” (Al-Baqarah : 283).

  1. Karahah

Yaitu tuntutan meninggalkan suatu perbuatan secara tidak pasti, ketidakpastian itu diambil dari indikator yang mengurangi tuntutan sehingga beralih dari pengertian haram.

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Artinya :”Bila kamu dipanggil shalat jum’ah maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli” (Al-Jum’ah : 9).

  1. Takhyir

Yaitu perbuatan yang diperintahkan Allah untuk memilih antara melakukan atau tidak, atau juga disebut ibahah (mubah).

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

Artinya :”Bacalah ayat yang mudah dari Al-Qur’an”(Al-Muzammil : 20).

    • WAJIB DAN KLASIFIKASINYA

Wajib adalah sesuatu yang mengakibatkan sanksi hokum karena meninggalkannya. Wajib sendiri memiliki beberapa klasifikasi, antara lain ;

  1. Wajib adakalanya mutlak dan muaqqat (yang dibatasi waktu). Mutlak adalah sesuatu yang batas waktunya tidak dibatasi oleh masa waktu tertentu oleh Allah, seperti ;kaffarah. Sementara muaqqat adalah kebalikannya, seperti; shalat, puasa Ramadlan, Haji dll.

  1. Wajib adakalanya ‘ain (perbuatan yang berlaku bagi siapapun, artinya setiap mukallaf dituntut melaksanakannya), dan adakalanya kifayah (perbuatan yang dituntut untuk dilakukan tanpa memandang pelakunya).

  1. Wajib terbagi menjadi muhaddad (terbatas) dan ghairu muhaddad (tak terbatas). Muhaddad adalah ketentuan kewajiban yang ukurannya ditentukan oleh Allah, sementara ghairu muhaddad tidak.

  1. Wajib terbagi menjadi mu’ayyan (tertentu) dan mukhayyar (pilihan). Wajib mu’ayyan adalah sesuatu yang dituntut oleh syar’i secara tertentu dan wajib mukhayyar adalah sesuatu yang dituntut oleh syar’i secara samar dalam salah satu dari hal-hal yang telah ditentukan seperti salah bentuk kaffarah.

    • MANDUB (SUNNAH)

Mandub adalah sesuatu yang dituntut oleh Allah agar dikerjakan dengan tuntutan yang tidak pasti. Para ulama membagi sunnah menjadi 3 macam :

  1. Sunnah Huda, yaitu: pelaksanaannya dimaksudkan sebagai penyempurna atau pelengkap kewajiban agama, seperti adzan dan shalat berjama’ah. Orang yang meninggalkannya di anggap sesat dan berdosa, sehingga apabila suatu daerah sepakat untuk meninggalkannya, maka mereka boleh diperangi.

  1. Sunnah Zaidah (tambahan), yaitu: hal-hal yang dikerjakan Nabi SAW, berupa hal-hal biasa yang bersifat akhlak; seperti etika makan, minum, memakai pakaian dan sebagainya. Apabila mukallaf melakukannya adalah lebih baik, sedang bila tidak, maka hal itu tidak berpengaruh apa-apa, yaitu berkaitan dengan makruh dan keburukan.

  1. Nafal, yaitu yang ditetapkan sebagai tambahan atas fardlu, wajib dan sunnah, seperti shalat tathawwu’. Seseorang yang melakukannya akan mendapat pahala dan tak ada hukuman dan teguran bagi yang tidak melakukannya.
    • HARAM

Haram adalah sesuatu yang menyebabkan hukuman bila dikerjakan. Ditinjau dari cara penetapannya, ulama hanafiyah membaginya menjadi dua, yaitu:

  1. Yang telah tetap secara pasti, yaitu nash Al-Qur’an, hadits Mutawatir dan Ijma. Hal ini berakibat tahrim.

  1. Yang tetap secara Zhann (dugaan), yaitu hadits aahaad dan Qiyas. Hal ini berakibat karahah tahrim.

    • MAKRUH TANZIH

Adalah sesuatu yang harus ditinggalkan dengan tanpa menyebabkan hukuman jika dilakukan.

    • MUBAH

Macam-macam mubah :

  1. Sesuatu yang dijelaskan oleh syar’i secara takhyir (perintah untuk memilih).

  1. Sesuatu yang tidak ada dalil sama’i dari syar’i secara takhyir tetapi Dia menjelaskan penafian dosa jika melakukannya.

  1. Sesuatu yang tidak terdapat sesuatu apapun dari syar’i, sehingga tetaplah pada keadaan asalnya (boleh).

  1. HUKUM WADH’I

Hukum Wadh’i adalah khithab Allah yang berkaitan dengan keadaan sesuatu.

  1. Sebab

Adalah sesuatu yang ditetapkan oleh syar’i sebagai tanda atas adanya tuntutan pada tanggungan mukallaf.

أَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ

Artinya:”Shalatlah sesudah matahari tergelincir” (al-Israa: 78).

Sebab secara syara’ ada dua macam:

  1. Sesuatu yang di luar kemampuan mukallaf sperti keterpaksaan yang menjadi sebab diperbolehkan memakan bangkai.

  1. Sesuatu yang termasuk dalam kemampuan mukallaf.

  1. Al-Maani’ (penghalang)

Adalah suatu sifat untuk menghalangi hukum atau sebab yang mengandung hikmah yang menghendaki kebalikan dari hukum itu.

  1. Rukhsah dan Azimah

Azimah adalah hukum yang diundangkan secara umum pada permulaannya. Maksudnya hukum itu tidak dikhususkan pada pada sebagian mukallaf dari sisi kedudukan  mereka sebagai orang yang terkena beban hukum dan tidak dikhususkan pada sebagian keadaan; seperti shalat yang disyariatkan secara mutlak dan umum atas semua orang dan pada setiap keadaan, demikian pula puasa dan yang lain.

Yang dimaksud permulaan adalah bahwa tujuan syara’ adalah membuat hukum-hukum taklifi bagi manusia atas sesuatu, maka ia tidak didahului oleh hukum syara’ sebelumnya.

Rukhsah menurut syara’ mempunyai empat arti, yaitu;

  1. Yang dikecualikan dari dasar global, yang menghendaki larangan secara mutlak tanpa memperhatikan adanya udzur yang berat: seperti hutang, qiradh (pemberian modal untuk berdagang dengan memperoleh bagian laba) dan lain-lain.

  1. Suatu pengurangan bagi umat dari beban yang berat dan perbuatan yang sulit, seperti firman Allah berikut,

رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا

Artinya:”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami”(Al-Baqarah: 286).

  1. Sesuatu yang diundangkan sebagai kelonggaran atas manusia secara mutlak yang menyebabkan mereka bias mencapai tujuan dan memenuhi keperluan mereka.

  1. Sesuatu yang diundangkan karena udzur berat yang dikecualikan dari dasar globalsekedar memenuhi kebutuhan.

  1. AL-MAHKUM FIIHI (PERBUATAN MUKALLAF)

Adalah perbuatan mukallaf yang dikenakan pembebanan.

  1. MAHKUM ‘ALAIH (MUKALLAF)

Mukallaf yang dikenakan pembebanan atas perbuatan.

III. DALIL-DALIL RINCI TENTANG HUKUM

Dalil-dalil rinci tentang hukum syari’at adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

  1. AL-QUR’AN

Al-qur’an adalah lafal-lafal bahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk difikirkan dan direnungkan, yang diriwayatkan secaramutawatir, di awali dengan Al-fatihah dan di ahiri dengan An-Nas.

Bahasa Arab adalah bagian inti Al-Qur’an, maka terjemah Al-Qur’an tidak dinamakan Al-Qur’an. Apabila seseorang shalat dengan membaca terjemahnya, maka shalatnya tidak sah. Dinisbatkan dengan pendapat imam Abu Hanifah yang membolehkan shalat dengan membaca terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Pers, maka sebenarnya ia telah menarik kembali pendapatnya. Dan Al-Qur’an adalah sumber pdoman hukum bagi umat Islam yang paling utama.

Dasar-dasar Al-Qur’an secara umum :

  1. Al-Qur’an adalah hukum yang menyeluruh dan menjadi sendi-sendi syari’at.

  1. Mengetahui asbabunnuzul adalah mutlak bagi orang yang ingin mengetahui ilmu-ilmu Al-Qur’an

  1. Pendefinisian al-Qur’an pada hukum-hukum kebanyakan adalah bersifat global bukan particular.

  1. AS-SUNNAH

  1. Definisi As-sunnah

As-Sunnah berarti sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, berupa perkataan, perbuatan dan persetujuannya.

As-Sunnah juga dapat dimaksudkan dengan sesuatu yang dilakukan sahabat; baik hal itu terdapat dalam Al-Qur’an atau dalam As-Sunnah atau tidak ada pada keduanya, karena para sahabat mengikuti sunnah dengan nyata, hanya saja tidak diriwayatkansampai kepada kita atau sebagai ijtihad yang telah disepakati. Seperti disabdakan oleh Rasulullah,”Hendaklah kamu berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin sesudahku”.

As-Sunnah terbagi menjadi 4 :

  1. Perkataan (Qauliyah)

Maksudnya perkataan Nabi Saw, ialah perkataan yang pernah beliau ucapkan dalam berbagai bidang, seperti bidang hukum, akhlaq, ‘aqidah, pendidikan dan sebagainya.

  1. Perbuatan (Fi’liyah)

Merupakan sebagai penjelasan praktis terhadap peraturan-peraturan syari’at yang belum jelas cara pelaksanaannya. Misalnya cara shalat  dan cara shalat sunnah di atas Unta yang sedang berjalan, telah dipraktekan Rasulullah dihadapan para sahabat. Namun demikian ada perbuatan yang sebenarnya khusus ditujukan kepada Rasulullah SAW Saja. Perbuatan beliau yang tidak termasuk nash yang harus ditaati, antara lain ialah :

  1. Sebagian tindakan beliau yang ditunjuk suatu dalil yang khas, yang menegaskan bahwa perbuatan itu hanya spesifik buat beliau sendiri. Seperti dijelaskan dalam ayat berikut.

Artinya :”…dan Kami halalkan seorang wanita mukminah yang menyerahkan dirinya kepada Nabi (untuk dikawini tanpa mahar), bila Nabi menghendaki menikahinya, sebagai suatu kelonggaran untuk engkau (saja), bukan untuk kaum beriman pada umumnya” (Al-Ahzab: 50).

  1. Sebagian tindakan beliau yang berdasarkan suatu kebijaksanaan semata-mata yang bertalian dengan soal keduniaan, seperti perdagangan, pertanian, dan tak tik perang.

  1. Sebagian tindakan beliau pribadi sebagai manusia. Seperti makan, minum, berpakaian dan sebagainya.

  1. Penetapan (Taqrir)

Arti taqrir adalah keadaan beliau mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan dan diperkatakan para sahabat di depan beliau. Namun demikian ini disandarkan ketika beliau masih hidup, dan yang melakukan adalah orang Islam yang taat.

  1. Sifat-sifat, keadaan-keadaan dan himmah (Hasrat) Rasulullah SAW.

  1. Unsur-Unsur Yang Harus ada dalam menerima Hadits

  1. Rawi, ialah orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang.

  1. Matan, ialah pembicaraan atau materi berita yang di over oleh sanad terakhir, atau dengan kata lain, matan adalah isi dari hadits.

  1. Sanad, ialah jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada Rasulullah SAW.

  1. Klasifikasi Hadits Dari Segi Jumlah Rawi

1. Hadits Mutawatir, ialah suatu hadits hasil tanggapan panca indra, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut adapt kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat dusta.

Syarat-syarat Mutawatir

  1. Adanya Sejumlah perawi yang dapat mencegah kesepakatan dalam berdusta, karena perbedaan kecenderungan dan negeri mereka/terpercaya.

  1. Menyandarkan pada perasaan bukan akal. Karena akal kadang-kadang terjadi kesalahan.

  1. Hendaklah sama antara kedua belah pihak dan yang pertengahan ialah bila orang-orang yang menyaksikannya mengabarkan bahwa mereka menyaksikan sedang mereka adalahsejumlah orang yang dapat dipercaya dan bersih dari dusta serta diriwayatkan dari mereka bahwa mereka menyaksikan seperti orang-orang itu sehingga sampai kepada kita.

2. Hadits Ahad, Terbagi menjadi tiga :

1.1  Hadits Masyhur, ialah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir.

1.2  Hadits ‘Aziz, ialah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun dua orang rawi tersebut terdapat pada dua thabaqah saja, kemudian setelah itu, orang-orang meriwayatkannya.

1.3  Hadits Gharib, ialah hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.

Syarat-syarat Rawi

  1. Baligh

Tidaklah diterima hadits yang diriwayatkan dari anak kecil. Akan tetapi jika membawa hadits tersebut pada usia tamyiz kemudian merwayatkannya pada waktu baligh, maka periwayatannya diterima.

  1. Islam

Sebenarnya tidaklah disyaratkan bagi perawi ketika menerima hadits beragama Islam, akan tetapi bila kemudian orang kafir yang menerima hadits masuk Islam maka riwayatnya diterima. Karena ini adalah masalah agama, jadi bagaimana agama di ambil dari orang yang menentangnya ?

  1. Adil

Adil diwaktu menyampaikan dan tidak disyaratkan di waktu menerima.

  1. Dhabith (Kuat hafalannya)

Agar terlepas dari kesalahan dalam meriawayatkan isi hadits.

Kehujjahan As-Sunnah

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya” (Al-Hasyr : 7).

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab : 36)

Jadi fungsi Al-hadits adalah sebagai penjelas hukum yang masih tersamar dalam al-Qur’an, seperti shalat, zakat ,haji, puasa, bersuci, binatang sembelihan, nikah, talaq, zhihar, ruju’, li’an dan sebagainya. Dan kaum muslimin sepakat, bahwa sunnah Rasulullah SAW adalah hujjah dalam agama dan salah satu dalil hukum.

  1. AL-IJMA’

Al-Ijma’ menurut bahasa adalah sepakat, setuju atau sependapat. Sedang menurut istilah, Ijma’ adalah suatu produk hukum atas hasil kesepakatan para mujtahidin dari suatu umat dalam suatu masa atau kebulatan pendapat ahli ijtihad dari umat Nabi SAW, sesudah beliau wafat, pada suatu masa, tentang suatu perkara (hukum).

Ijma’ digunakan ketika tidak ada dalil, baik itu di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Ijma’ dipakai bila telah disepakati para ulama dan tidak menyalahi nash yang Qath’i.

  1. AL-QIYAS

Menurut bahasa adalahtimbangan, takaran, ukuran. Sedang menurut istilah Qiyas adalah menyamakan atau menetapkan suatu masalah yang tidak ada nash hukumnya dengan ketetapan yang sudah ada nash hukumnya, karena mempunyai illat yang sama.

  1. Rukun Qiyas

1.1  Dasar (al-Ashlu: asal).

1.2  Hukum asal,

1.3  Cabang (furu’),

1.4  Illat hukum/sifat yang mensifati yang terdapat dalam hukum asal yang dijadikan landasan dalam penetapan hukum, yang terdapat dalam masalah-masalah furu’.

  1. Syarat-syarat Qiyas

  1. Dapat ditentukan secara pasti/diukur,
  2. Ada ketetapan/kepastian,
  3. mengandung hikmah/tasyri’.

  1. Syarat-Syarat Hukum Asal

  1. Tidak menyimpang dari tata cara qiyas, artinya ia mempunyai illat yang bisa di fahami akal dan illat itu juga ditemukan ditempat lain.

  1. Ia tidak ditetapkan dengan qiyas, akan tetapi dengan nash atau ijma’.

  1. Ia merupakan hukum syara’.

  1. Ia tidak mansukh (dibatalkan).

  1. Illat

Illat dapat di artikan dengan dua pengertian :

  1. Illat ialah hikmah yang timbul di atas pembentukan hukum itu.
  2. Illat ialah kerusakan yang dikehendaki penolakannya atau pengurangannya.

  1. Pembagian Illat

  1. Pembagian menurut pertimbangan maksudnya,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ

Artinya :”Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu…(Al-Maidah : 6)

إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.(Al-ankabut : 45).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah : 183).

  1. Pembagian menurut pertimbangan penyampaiannya kepada yang dimaksudkannya,
  2. Pembagiannya menurut pertimbangan apa yang diperhitungkan syar’i darinya dan apa yang tidak diperhitungkan.

  1. Qiyas menurut ulama syafi’iyah dibagi dua:

  1. Qiyas Jali adalah qiyas yang diketahui didalamnya tidak mempertimbangkan pemisah antara cabang dan asalnya. (terang). Seperti mengqiyaskan budak perempuan dengan budak laki-laki dalam penetapan harga atas orang yang memerdekakan  sebagian sifat kebudakannya.
  2. Qiyas Khafi adalah qiyas yang diduga didalamnya tidak mempertimbangkan pemisah, seperti mengqiyaskan arak sari buah khamr dalam keharaman jumlah yang sedikit daripadanya, karena boleh terjadi khamr memiliki kekhususan yang dengan sebab itu ia diberi hukum demikian.

  1. Istikhsan

Adalah berpaling dari qiyas yang jail kepada qiyas yang khafi.

  1. IJTIHAD

Secara bahasa adalah pencurahan tenaga dan kemampuan dalam suatu pekerjaan. Sedang menurut istilah pencurahan kemampuan yang dilakukan oleh seorang ahli fiqih dalam menggali pengetahuan yang berkaitan dengan hukum-hukum syari’at.

  1. Hukum Ijtihad

  1. Wajib ‘Ain bagi orang yang bertnggung jawab atas suatu kasus yang terjadi dan khawatir  kehilangan momentumnya, begitu juga jika suatu kasus tertentu sudah terjadi pada seseorang secara pribadi dan ia ingin mengetahui hukumnya.
  2. Wajib kifayah bagi orang yang bertanggungjawab atas suatu kasus hukum yang tidak khawatir kehilangan momentum kasus tersebut dan bagi para mujtahid lainnya. Jika semua mengabaikan maka semua berdosa, jika ada salah seorang yang berfatwa maka gugurlah tuntutan berijtihad bagi mereka semua.
  3. Sunnah, yaitu ijtihad yang dilakukan untuk merumuskan hukum suatu kasus yang belum terjadi, baik  hukum kasus tersebut dimintai pertanggungan jawabnya atau tidak.

Syarat-syarat berijtihad :

  1. Seorang mujtahid harus adil.
  2. Harus menguasai sumber-sumber syara’.

  1. TAQLID

Taqlid ialah menerima suatu pendapat tanpa hujjah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

***

DI AMBIL DARI BUKU USHUL FIQIH

KARYA SYAIKH M.KHUDARI BIEK

DAN

BUKU MUSTALAHUL HADITS

KARYA DRS.FATCHUR RAHMAN

OLEH :

DEDI SAPUTRA

 

 

1 Komentar (+add yours?)

  1. hajjah nurimin masrurah
    Des 03, 2012 @ 06:28:26

    syukron wajazakumullahu khairan katsiron saya sangat terbantu dalam mengerjakan tugas

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: