KAFIR ; PENGERTIAN, PEMBAGIAN DAN SIKAP KITA TERHADAP KAUM KAFIR

KAFIR ; PENGERTIAN, PEMBAGIAN DAN SIKAP KITA TERHADAP KAUM KAFIR

 

Sebagian kaum Muslim menyikapi orang-orang kafir sebagai pihak yang harus diperangi. Sebagian lainnyamenganggap mereka sebagai sahabat sebagaimana layaknya sesama kaumMuslim. Dan sebagian lainnya menjaga jarak. Bagaimana sebenarnya kita harusmenyikapi orang-orang kafir? Apabila kita mengkaji ayat-ayat al-Quran maupun hadits-hadits Nabi saw yang berkaitan dengan perlakuan terhadap orang-orang kafir, maka kita akan menjumpai nash-nash yang secara sepintas tampak berlawanan, padahal hakekatnya tidak demikian. Sebagai contoh, dijumpai ayat:

Dan bunuhlah mereka (orang-orang kafir itu) dimana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu. (al-Baqarah [2]: 191)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir. ( al-Fath [48]: 29)

Di sisi lain terdapat pula ayat:

Allah tiada melarang kamu untukberbuat baik dan berlaku adil terhadaporang-orang yang tiada memerangimukarena agama dan tidak (pula)mengusir kamu dari negerimu.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. ( al-Mumtahanah [60])

 


Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang sejenis, demikian pula dengan hadits- hadits Rasulullah saw. Untuk mengetahui konteks dan obyek dari ayat-ayat maupun hadits-hadits seperti itu, maka diperlukan pengkajian terhadap nash-nash syar ’i. Kebodohan di dalam memahami nash- nash semacam itu dapat berakibat pada tindakan sembrono dan gegabah, yang berujung pada kesesatan dan kenestapaan. Dari berbagai pengkajian, para ulama telah menjabarkan maksud dan sasaran dari nash-nash tersebut, kemudian mengeluarkan istilah-istilah untuk memudahkan kaum Muslim membedakan dan menentukan sikap terhadap orang-orang kafir. Istilah- istilah tersebut adalah: kafir harbi, kafir musta ’min, dan ahlu dzimmah. Istilah-istilah ini sangat masyhur di dalam pembahasan hukum-hukum Islam, terutama yang berhubungan dengan jihad fi sabilillah. Lagi pula, masyarakat kaum Muslim dan negara (yaitu Daulah Islamiyah saat itu) mempraktekkannya secara praktis, sehingga dengan sendirinya sebutan kafir harbi, kafir musta ’min atau pun ahlu dzimmah bukanlah sesuatu yang sangat asing.

Kafir harbi adalah setiap orang kafiryang tidak tercakup di dalam perjanjian
(dzimmah) kaum Muslim, baik orang itu kafir mu ’ahid atau musta’min, atau pun bukan kafir mu’ahid dan kafir musta’min[1].

Mu’ahid sendiri adalah orang kafir yang menjadi warga negara kafir yang memiliki perjanjian (mu ’ahidah) dengan negara Khilafah.

Negaranya dinamakan dengan Daulah mu ’ahidah (negara yang memiliki perjanjian dengan negara Khilafah).

Ibnul Qayyim menyebutnya dengan istilah ahlu al-hudnah atau ahlu ash- shulhi[2]. Kadangkala disebut juga dengan al-muwadi ’in3.

Sedangkan kafir musta’min adalah orang yang masuk ke negara lain dengan izin masuk (al-aman, semacam visa-pen), baik orang itu muslim atau pun kafir harbi1. Ditinjau dari aspek hukum, kafir harbi dibagi menjadi dua, yaitu (1) kafir harbi hukman, artinya secara de jure (secara hukum) kafir harbi, dan (2) kafir harbi fi ’lan atau kafir harbi haqiqatan (defacto) yakni orang-orang kafir yang tengah berperang/memerangi kaum Muslim.

Contoh kafir harbi hukman
untuk saat ini adalah negara-negara kafir seperti Mongolia, Brazil, Argentina
dan sejenisnya.

Sedangkan contoh kafirharbi fi’lan adalah Amerika Serikat, Israil, Inggris, Australia, Perancis, Rusia, India, China, dan sejenisnya, yaitu mencakup negara-negara kafir yang menduduki negeri-negeri kaum Muslim, memusuhi, mengusir atau memerangi  kaum Muslim.

Adapun ahlu dzimmah atau biasa dikenal juga dengan kafir dzimmi, adalah setiap orang yang tidak beragama Islam dan menjadi rakyat (warga negara) Daulah Khilafah Islamiyah. Dan biasanya Daulah Islamiyah mempunyai akad dzimmah (perjanjian) dengan mereka.

Terhadap kafir harbi muharibah fi’lan (yaitu negara kafir yang de facto
tengah memerangi kaum Muslim), maka Daulah Islamiyah tidak dibolehkan melakukan interaksi apapun kecuali jihad fi sabilillah. Tidak diperkenankan membuka hubungan diplomatik, hubungan dagang, atau perjanjian lainnya. Warga negara kafir harbi muharibah fi ’lan tidak memperoleh jaminan keamanan kecuali jika mereka datang ke Daulah Islamiyah untuk mendengarkan Kalamullah.

Firman Allah Swt:
Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. ( at-Taubah [9]: 6)

Pengecualian lainnya adalah jika orang itu datang untuk menjadi warga negara Daulah Islamiyah (menjadi kafir dzimmi).

Firman Allah Swt:
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka dalam keadaan tunduk. (TQS. at-Taubah [9]: 29)

Terhadap kafir harbi ghairu muharibah fi ’lan (yaitu negara kafir yang de facto tidak sedang berperang dengan Daulah Islamiyah), maka dibolehkan
melakukan interaksi, seperti mengadakan perjanjian perdagangan, perjanjian untuk bertetangga baik. Terhadap warga negaranya dibolehkan mengunjungi/memasuki wilayah Daulah Islamiyah, baik untuk kepentingan dagang, melancong, atau keperluan lainnya yang dibolehkan, sesuai dengan teks perjanjian bilateral (jika terikat dengan suatu perjanjian) Terhadap kafir musta’min, maka atasnya diberikan jaminan keamanan/ perlindungan selama masa pemberian jaminan tersebut. Masa pemberian jaminan keamanan tersebut bisa satu bulan, dua bulan atau tiga bulan, selama tidak lebih dari satu haul (satu tahun). Apabila masa tinggalnya sebagai kafir musta ’min di dalam wilayah Daulah Islamiyah mencapai masa satu tahun, maka atasnya diberikan dua pilihan; yaitu keluar dari wilayah Daulah Islamiyah, atau menjadi kafir dzimmi dengan membayar jizyah.

Sedangkan terhadap ahlu dzimmah atau kafir dzimmi, maka berlaku sesuai dengan akad dzimmah-nya. Atas mereka berlaku hukum umum, yaitu:
“ Lahu maa lanaa wa ‘alayhim maa ‘alynaa” Apa yang menjadi hak kita (kaum Muslim) juga menjadi hak mereka, begitu pula apa yang menjadi kewajiban kita –kaum Muslim- menjadi kewajiban mereka (dalam hukum- hukum publik).

 

Referensi:
1 Taqiyuddin an-Nabhani., asy-
Syakhshiyah al-Islamiyah., jilid II/232.,
Darul Ummah
2 Ibnul Qayyim., Ahkam Ahlu adz-
Dzimmah., Darul Ilmi lil Malayin
3 Muhammad Khair Haekal., al-Jihad wa
al-Qital fi as-Siyasati asy-Syar’iyyah.,
jilid I/701., Darul Bayariq

3 Komentar (+add yours?)

  1. Ibrahim Ar-rahim
    Nov 08, 2011 @ 10:46:11

    subhanallah

    Balas

  2. al fakir
    Mar 29, 2013 @ 04:04:36

    Bos saya kafir dan benci islam,sampe2 tdk memberi waktu sholat. Kalo saya curi uangnya gmn hukumnya,

    Balas

    • dedys582
      Okt 29, 2013 @ 14:32:03

      Islam tidak pernah memerintahkan kita untuk melakukan hal-hal yang buruk saudaraku..
      Lihat bagaimana Rasulullah SAW menyikapi kekejaman kaum kafir Quraisy. Kebencian jangan di balas dengan kebencian, namun tetaplah pada jalan Allah SWT.
      Insya Allah, akan ada jalan keluar yang baik dari Allah SWT

      Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: